Menanam Asam Timor, Menuai Air Jernih: Seruan Iman dari Sinode GMIT dan GAMKI

Kerjasama Sinode GMIT dan GAMKI Hijaukan NTT

I. Pembukaan & Problematika

Pagi yang cerah, saudara-saudara pendengar RRI di seluruh penjuru Nusa Tenggara Timur yang kami cintai…

Bayangkan…

Sepuluh tahun yang lalu, saya berdiri di tepi sungai Benain, Noelbaki. Dulu sungai itu lebar, airnya jernih, ikan-ikan kecil berenang riang, anak-anak kami mandi sambil tertawa. Tapi sekarang? Sungai itu tinggal cerita. Tinggal batu-batu kering yang menangis di bawah terik matahari.

Saya tanya seorang mama di desa itu: “Mama, kenapa sungai kita mati?”

Dengan mata berkaca-kaca dia menjawab: “Anakku… pohon-pohon di hulu sudah habis. Air tidak lagi ditahan di tanah. Air lari ke laut, membawa tanah kita bersamanya.”

Seketika itu hati saya bergetar. Ini bukan hanya soal lingkungan. Ini soal anak-cucu kita. Ini soal iman kita kepada Tuhan yang menciptakan bumi ini dan mempercayakannya kepada kita. Kalau kita diam saja, berarti kita sedang mengkhianati amanah Tuhan dan mengkhianati tanah kelahiran kita sendiri.


II. Latar Belakang Kerjasama Sinode GMIT – GAMKI

Itulah sebabnya, sejak 2 November 2025 lalu, di Oemofa, Sinode GMIT bersama GAMKI mendeklarasikan gerakan besar:

“Tanam Air, Tanam Pohon, Tanam Harapan – 1 Juta Pohon untuk NTT Hijau Kembali!”

Ini bukan sekadar program lingkungan.

  • Ini adalah pernyataan iman kita bahwa merawat bumi adalah ibadah.
  • Ini adalah pernyataan cinta kita kepada Flobamora bahwa kami tidak rela tanah leluhur jadi gersang.
  • Ini adalah janji kita kepada anak-cucu: “Kalian akan mewarisi NTT yang hijau, bukan NTT yang tandus.”

III. Puncak Aksi GAMKI: 29 November 2025

Saudara-saudara,

Tanggal 29 November mendatang, GAMKI se-NTT (13 kab/kota) akan menggelorakan AKSI TANAM RAYA serentak di seluruh DPC!

Pusatnya di GMIT Nisbaath, Klasis Amabi Oefeto Timur – kami akan tanam 10.000 bibit pohon Asam Jawa Timor dalam satu hari!

Mengapa Asam Jawa?

Asam Jawa dipilih karena:

  • Umurnya panjang, ratusan tahun.
  • Akarnya dalam, menahan air tanah.
  • Daunnya lebat, menahan erosi.
  • Buahnya jadi berkat ekonomi bagi masyarakat.

Satu pohon yang kita tanam hari itu bukan sekadar pohon. Itu adalah bendungan alami. Itu adalah harapan. Itu adalah doa yang kita tanam di tanah NTT.


IV. Ajakan Patriotik & Imaniah

Saudara-saudaraku yang mendengar suara ini…

Apakah kita tega melihat anak kita nanti hanya bisa membaca di buku sejarah: “Dulu NTT punya sungai yang mengalir sepanjang tahun…”?

Jangan biarkan itu terjadi!

Mari kita jawab panggilan Tuhan dalam Kejadian 2:15:

“Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara tanah itu.” Memelihara, bukan menghancurkan!

Mari kita jawab seruan darah Sonba’i, Don Alex, Paskalis yang mengalir dalam tubuh kita:

“Tanah ini kita pertahankan, bukan hanya dengan darah di medan perang, tapi juga dengan keringat di ladang-ladang penghijauan!”

Saudara-saudara,

  • Kalau bukan kita, siapa lagi?
  • Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Ambil cangkul, ambil bibit, datanglah 29 November! Bawa keluarga, bawa pemuda gereja, bawa teman sekolah dan kampus.

Satu orang tanam satu pohon, seratus orang jadi seratus pohon, sepuluh ribu orang jadi sepuluh ribu harapan!


V. Penutup & Call to Action

Saya, sebagai Ketua DPD GAMKI NTT, mengundang seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur:

Mari kita songsong NTT hijau! Mari kita songsong NTT yang airnya kembali mengalir!

Mari kita songsong NTT yang anak-cucunya bisa berkata dengan bangga:

“Orang tua kami dulu menanam pohon, maka kami sekarang bisa berteduh dan minum air yang jernih.”

Tanam Air. Tanam Pohon. Tanam Harapan.

Bersama Sinode GMIT dan GAMKI, Kita wujudkan NTT Hijau 1 Juta Pohon!

Tuhan memberkati kita semua. Salam Flobamora! Salam Lontar Hijau! Terima kasih RRI, terima kasih saudara-saudara pendengar.

Sampai jumpa di lapangan, 29 November – kita tanam bersama!