Opini: Menabung Air Sebelum Haus- Liturgi Hijau Melawan Godzilla El Nino
Oleh: Winston Rondo
Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Ketua DPD GAMKI NTT.
Beberapa waktu lalu, saya menulis tentang ” Liturgi Hijau”—sebuah ajakan agar gereja tidak hanya membatasi ibadah di dalam gedung, tetapi membawanya keluar untuk memuliakan Allah melalui penjagaan alam ciptaan-Nya.
Hari ini, ajakan itu bukan lagi sekadar wacana teologis, melainkan panggilan darurat iman.
Para ahli iklim, mulai dari BMKG hingga BRIN, tengah mengamati potensi El Nino kuat yang diperkirakan berdampak signifikan terhadap pola curah hujan di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur ( NTT).
Fenomena ini bahkan kerap disebut secara populer sebagai “ Godzilla El Nino” untuk menggambarkan skalanya yang ekstrem.
Kondisi ini diperkirakan akan diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah kita.
Jika prediksi ini terjadi, maka mulai April ini, NTT akan menghadapi musim kering yang lebih panas, lebih panjang, dan lebih mematikan bagi kehidupan masyarakat.
Strategi Menabung: Liturgi yang Menghidupkan
Pepatah kuno mengatakan, “Sedia payung sebelum hujan.” Namun, menghadapi Godzilla El Niño, pepatah itu harus kita balik menjadi: “Menabung air sebelum haus.”
Kita tidak bisa lagi hanya menunggu hujan datang; kita harus mengelola setiap tetes yang tersisa.
Dalam perspektif kemanusiaan, ketangguhan sebuah komunitas tidak hanya ditentukan oleh kecepatan bantuan pemerintah, tetapi oleh kesiapan warga dalam menghadapi krisis.
Karena itu, strategi kita perlu bergeser: dari sekadar menanam pohon menjadi gerakan menabung air.
Menanam pohon adalah doa jangka panjang. Tetapi di tengah ancaman kekeringan ekstrem, membuat lubang resapan, biopori, dan embung kecil adalah bentuk “sedekah air” yang menjawab kebutuhan mendesak.
Mumpung hujan masih turun sesekali di penghujung musim ini, jangan biarkan air itu mengalir sia-sia ke laut.
Kita harus “memaksa” air masuk ke dalam tanah, ke dalam rahim bumi yang menyimpan kehidupan.
Gerakan menabung air harus dimulai dari hal sederhana: setiap rumah membuat lubang resapan, setiap gereja memanfaatkan lahannya untuk konservasi air, dan setiap komunitas mulai membangun sistem penampungan air (PAH) mandiri.
Menabung air hari ini adalah bentuk nyata kasih kepada sesama, agar saudara kita tidak kehausan saat puncak kemarau tiba di bulan Agustus nanti.

Gereja sebagai Oase dan Simpul Informasi
Bencana seringkali menjadi lebih parah karena informasi yang terlambat sampai ke akar rumput.
Di sinilah gereja memiliki peran strategis sebagai simpul informasi.
Gereja harus menjadi oase informasi iklim, mendorong perubahan pola tanam, serta menggerakkan aksi kolektif.
Kader pemuda, termasuk GAMKI, harus berperan sebagai jembatan; menerjemahkan data teknis BMKG ke dalam bahasa yang dipahami petani dan keluarga di desa.
Inilah bentuk nyata Sains Warga: gereja yang cerdas iklim adalah gereja yang menyelamatkan jemaatnya dari petaka gagal panen.
Kita juga perlu mendorong adaptasi pangan lokal, seperti sorgum dan umbi-umbian. yang telah lama terbukti tahan banting di tanah NTT yang kering.
Menagih Akuntabilitas Pemerintah
Sebagai bagian dari pemerintah daerah, saya menegaskan bahwa menghadapi ancaman ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak boleh bertindak seperti “pemadam kebakaran” yang baru sibuk saat api sudah berkobar.
- Audit Infrastruktur Air: Pastikan seluruh sumur bor, pompa, dan jaringan distribusi berfungsi optimal sekarang. Jangan biarkan rakyat mati haus di samping mesin pompa yang rusak karena persoalan administrasi.
- Kedaulatan Benih: Distribusi benih harus berbasis pada kebutuhan lokal dan ketahanan iklim, bukan sekadar pendekatan proyek.
- Akses Informasi: Pastikan peringatan dini sampai ke tingkat desa dan dipahami masyarakat sebagai dasar pengambilan keputusan petani.
Penutup: Iman yang Turun ke Tanah
Iman tidak hanya diuji di ruang ibadah, tetapi di tanah yang mulai retak dan sumur yang perlahan mengering.
Liturgi Hijau mengajak kita untuk menghadirkan iman dalam tindakan nyata: tangan yang menggali tanah dan keberanian untuk bertindak sebelum krisis mencapai puncaknya.
Mari kita hadapi tantangan ini dengan kepala dingin, iman yang hidup, dan aksi nyata.
Mari kita menabung air hari ini, sebelum rasa haus itu menjerat kita semua.
NTT Tangguh, NTT Berdoa, NTT Bertindak! (*)
Sumber : POS-KUPANG.COM
